Tag Archives: Ibnu Majah

Berwudhu Sesuai Sunnah

Saudaraku sekalian yang dirahmati oleh Allah, wudhu adalah suatu masalah yang sangat penting di dalam ajaran Islam lantaran dia merupakan syarat sahnya sholat. Allah enggan menerima shalat seorang hamba selagi dia belum bersuci atau berwudhu terlebih dahulu ketika akan memulai shalatnya. Di samping itu, bila seseorang berwudhu kemudian tidak sempurna wudhunya atau tidak mengikuti tata cara wudhu Nabi maka shalatnya pun diragukan keabsahannya. Bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengancam dengan api neraka terhadap orang yang tidak mencuci kakinya dengan sempurna. Lantaran begitu pentingnya permasalahan ini dan juga banyaknya kaum muslimin yang belum mengetahui tatacara wudhu Nabi shallallahu alaihi wa sallam, maka penulis berusaha –dengan senantiasa memohon dan mengharap pertolongan dari Allah– untuk membahas permasalahan ini. Semoga bermanfaat.

Baca selanjutnya…

Advertisements

Menghindari Utang

Berhutang merupakan kenyataan yang melanda hampir setiap rumah tangga muslim, apalagi ketika lebaran seperti sekarang ini. Agar anda terhindar dari jerat hutang dan tidak menyesal karenanya, praktekkanlah nasehat-nasehat di bawah ini:

Renungkanlah selalu hadits-hadits tentang akibat hutang.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi seorang laki-laki (yang meninggal dunia) untuk dishalatkan, maka beliau bersabda, artinya: “Shalatkanlah teman kalian, karena sesungguhnya dia memiliki hutang.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Apakah teman kalian ini memiliki hutang? Mereka menjawab, ‘Ya, dua dinar’. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mundur seraya bersabda, ‘Shalatkanlah teman kalian!’ Lalu Abu Qatadah berkata, ‘Hutangnya menjadi tanggunganku’. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Penuhilah (janjimu)!, lalu beliau menshalatkannya.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, shahih).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Jiwa seorang mukmin itu terkatung-katung karena hutangnya, sampai ia dibayarkan.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, shahih).

Baca selanjutnya…

Istighfar dan Taubat, Sebab Diturunkannya Rizki

Hakikat Istighfar dan Taubat

Sebagian orang menyangka, bahwa istighfar dan taubat hanyalah dengan lisan semata. Sebagian mereka mengucapkan: (Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepadaNya). Tetapi kalimat-kalimat tersebut tidak membekas di dalam hati, juga tidak berpengaruh dalam perbuatan anggota badan.

Imam An-Nawawi menjelaskan: “Para ulama berkata, ‘Bertaubat dari setiap dosa hukumnya wajib. Jika maksiat (dosa) itu antara hamba dengan Allah, maka syaratnya ada tiga:

Pertama, menjauhi maksiat tersebut.

Kedua, menyesali perbuatan (maksiat) nya.

Ketiga, berkeinginan dengan tekad yang kuat untuk tidak mengulanginya lagi.

Baca selanjutnya…