Category Archives: Nasehat

“Valentines Day” Dalam Tinjauan Syar’i

Di antara kematian seseorang yang diperingati secara massal oleh begitu banyak orang adalah kematian St. Valentine yang diyakini terjadi pada tanggal 14 Februari. Ia dihukum mati karena menentang Kaisar yang melarang pernikahan di kalangan pemuda. Hari kematiannya itu kemudian diperingati sebagai Valentines day (hari valentine), suatu hari di mana orang-orang menyatakan rasa cinta dan kasih sayang kepada orang-orang yang diinginkannya. Di hari itu ada yang menyatakan perasaan kasih sayangnya kepada teman, guru, orang tua, kakak atau adik, dan yang paling banyak ditemui adalah mereka yang menyatakan cintanya kepada pasangan atau kekasihnya. Di hari itu pula, para lelaki atau perempuan yang ingin menyatakan cintanya mengirimkan kartu atau hadiah berupa cokelat atau kado kepada orang yang dituju dengan kalimat ”Be My Valentine” (Jadilah Valentine-ku) atau sama artinya ”Jadilah kekasihku”. Benarkah yang demikian itu semua merupakan kebaikan?

Baca selanjutnya…

Advertisements

Wajibnya Taat Kepada Pemimpin

Alangkah tentram dan nyaman hidup ini bilamana rakyat dan pemimpinnya saling mencintai, saling menghormati, dan saling menghargai. Seorang pemimpin melaksanakan kewajibannya yang menjadi sarana untuk mewujudkan tujuan-tujuan diadakannya kepemimpinan. Demikian pula dengan rakyatnya, mereka memiliki kewajiban terhadap pemimpinnya yang harus mereka realisasikan demi mewujudkan tujuan yang sama. Karena hubungan pemimpin dan rakyatnya atau sebaliknya mempunyai andil yang sangat besar di dalam sebuah kepemimpinan. Akan tetapi, hendaknya hubungan ini berjalan di atas dasar al-Quran dan as-sunnah as-shohihah serta tidak keluar dari contoh amalan para salaful ummah, yaitu para sahabat dan orang-orang yang setelah mereka dari kalangan tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Karena di dalamnya terdapat kemaslahatan besar bagi manusia di dunia dan di akhiratnya. Antara pemimpin dan rakyat sama-sama bertanggung jawab dalam mengemban amanah dalam rangka beribadah kepada Allah bukan semata-mata untuk motivasi duniawi, tetapi benar-benar menjalankan tugas Ilahi agar dunia menjadi tentram untuk tujuan yang hakiki, meraih kehidupan akhirat yang kekal abadi.

Baca selanjutnya…

Dusta dan Bahayanya

Di era globalisasi sekarang ini, kebohongan dan kepalsuan telah menjalar dan menjadi borok di setiap lapisan masyarakat. Sebagian umat Islam pun ada yang kecanduan dengan sikap tercela ini. Tulisan di bawah ini mudah-mudahan menguatkan kita semua untuk menghindari kebiasaan tercela tersebut. Allah telah melarang dengan tegas dalam al-Quran dan as-Sunnah dan para ulama pun telah bersepakat tentang tercelanya dusta. Ketahuilah, kejujuran adalah ukuran kabahagiaan dunia dan akhirat. Tiada kunci kebahagiaan dan ketentraman hakiki melainkan bersikap jujur  di manapun kita berada. Kejujuran merupakan nikmat Allah Ta’ala –yang sepatutnya seorang hamba merealisasikannya-  sekaligus penopang utama bagi berlangsungnya kehidupan dan kejayaan Islam.

Baca selanjutnya…

Menghindari Utang

Berhutang merupakan kenyataan yang melanda hampir setiap rumah tangga muslim, apalagi ketika lebaran seperti sekarang ini. Agar anda terhindar dari jerat hutang dan tidak menyesal karenanya, praktekkanlah nasehat-nasehat di bawah ini:

Renungkanlah selalu hadits-hadits tentang akibat hutang.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi seorang laki-laki (yang meninggal dunia) untuk dishalatkan, maka beliau bersabda, artinya: “Shalatkanlah teman kalian, karena sesungguhnya dia memiliki hutang.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Apakah teman kalian ini memiliki hutang? Mereka menjawab, ‘Ya, dua dinar’. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mundur seraya bersabda, ‘Shalatkanlah teman kalian!’ Lalu Abu Qatadah berkata, ‘Hutangnya menjadi tanggunganku’. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Penuhilah (janjimu)!, lalu beliau menshalatkannya.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, shahih).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Jiwa seorang mukmin itu terkatung-katung karena hutangnya, sampai ia dibayarkan.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, shahih).

Baca selanjutnya…

Tanda-Tanda Haji Mabrur

Ajaran Islam dalam semua aspeknya memiliki hikmah dan tujuan tertentu. Hikmah dan tujuan ini diistilahkan oleh para ulama dengan maqashid syari’ah, yaitu berbagai maslahat yang bisa diraih seorang hamba, baik di dunia maupun di akhirat.

Adapun maslahat akhirat, orang-orang shaleh ditunggu oleh kenikmatan tiada tara yang terangkum dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (hadits qudsi),

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِى الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنَ رَأَتْ ، وَلاَ أُذُنَ سَمِعَتْ ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Allah berfirman (yang artinya): Telah Aku siapkan untuk hamba-hambaKu yang shaleh kenikmatan yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terdetik di hati manusia.”[1]

Untuk haji secara khusus, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

والْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Haji yang mabrur tidak lain pahalanya adalah surga.”[2]

Baca selanjutnya…