Category Archives: Akhlaq

“Valentines Day” Dalam Tinjauan Syar’i

Di antara kematian seseorang yang diperingati secara massal oleh begitu banyak orang adalah kematian St. Valentine yang diyakini terjadi pada tanggal 14 Februari. Ia dihukum mati karena menentang Kaisar yang melarang pernikahan di kalangan pemuda. Hari kematiannya itu kemudian diperingati sebagai Valentines day (hari valentine), suatu hari di mana orang-orang menyatakan rasa cinta dan kasih sayang kepada orang-orang yang diinginkannya. Di hari itu ada yang menyatakan perasaan kasih sayangnya kepada teman, guru, orang tua, kakak atau adik, dan yang paling banyak ditemui adalah mereka yang menyatakan cintanya kepada pasangan atau kekasihnya. Di hari itu pula, para lelaki atau perempuan yang ingin menyatakan cintanya mengirimkan kartu atau hadiah berupa cokelat atau kado kepada orang yang dituju dengan kalimat ”Be My Valentine” (Jadilah Valentine-ku) atau sama artinya ”Jadilah kekasihku”. Benarkah yang demikian itu semua merupakan kebaikan?

Baca selanjutnya…

Dusta dan Bahayanya

Di era globalisasi sekarang ini, kebohongan dan kepalsuan telah menjalar dan menjadi borok di setiap lapisan masyarakat. Sebagian umat Islam pun ada yang kecanduan dengan sikap tercela ini. Tulisan di bawah ini mudah-mudahan menguatkan kita semua untuk menghindari kebiasaan tercela tersebut. Allah telah melarang dengan tegas dalam al-Quran dan as-Sunnah dan para ulama pun telah bersepakat tentang tercelanya dusta. Ketahuilah, kejujuran adalah ukuran kabahagiaan dunia dan akhirat. Tiada kunci kebahagiaan dan ketentraman hakiki melainkan bersikap jujur  di manapun kita berada. Kejujuran merupakan nikmat Allah Ta’ala –yang sepatutnya seorang hamba merealisasikannya-  sekaligus penopang utama bagi berlangsungnya kehidupan dan kejayaan Islam.

Baca selanjutnya…

Arti Sebuah Kesabaran

Sesungguhnya kehidupan ini tidak akan pernah terlepas dari ujian dan ujian. Di antara ujian dan cobaan yang diberikan Allah kepada umat manusia adalah menahan diri dari melakukan sesuatu atau dalam meninggalkan sesuatu, semata-mata untuk mengharap ridho Allah. Dan inilah yang biasa kita kenal dengan sebutan “sabar”. Berkali-kali Allah menyinggung perkara ini dalam al-Quran dan berkali-kali pula Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengingatkan kepada kita umatnya tentang hal ini. Mengingat betapa pentingnya arti sebuah kesabaran dalam menjalani kehidupan di dunia yang fana ini, maka perlu kiranya bagi kita semua untuk mengkaji sifat yang satu ini. Sebab, ada kemungkinan kita bisa meningkatkan kesabaran karena adanya kesadaran, dan kesadaran itu sendiri bias timbul dengan adanya ilmu atau pengetahuan.

 

Definisi Sabar

Sabar secara bahasa berasal dari kata ash-shobru, maknanya adalah al-hasbu atau al-kaffu yang artinya menahan. Firman Allah Ta’ala yang artinya: ”Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhoan-Nya.” QS. Al-Kahfi [18]: 28. Maksud sabar di atas adalah menahan. (Lihat Mu’jamul Wasith 1/505 dan Madarijus Salikin 2/187)

 

Baca selanjutnya…

Tanda-Tanda Haji Mabrur

Ajaran Islam dalam semua aspeknya memiliki hikmah dan tujuan tertentu. Hikmah dan tujuan ini diistilahkan oleh para ulama dengan maqashid syari’ah, yaitu berbagai maslahat yang bisa diraih seorang hamba, baik di dunia maupun di akhirat.

Adapun maslahat akhirat, orang-orang shaleh ditunggu oleh kenikmatan tiada tara yang terangkum dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (hadits qudsi),

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِى الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنَ رَأَتْ ، وَلاَ أُذُنَ سَمِعَتْ ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Allah berfirman (yang artinya): Telah Aku siapkan untuk hamba-hambaKu yang shaleh kenikmatan yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terdetik di hati manusia.”[1]

Untuk haji secara khusus, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

والْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Haji yang mabrur tidak lain pahalanya adalah surga.”[2]

Baca selanjutnya…

Pengaruh Teman Bergaul yang Baik

Teman bergaul dan lingkungan yang Islami, sungguh sangat mendukung seseorang menjadi lebih baik dan bisa terus istiqomah. Sebelumnya bisa jadi malas-malasan. Namun karena melihat temannya tidak sering tidur pagi, ia pun rajin. Sebelumnya menyentuh al Qur’an pun tidak. Namun karena melihat temannya begitu rajin tilawah Al Qur’an, ia pun tertular rajinnya.

Perintah Agar Bergaul dengan Orang-Orang yang Sholih

Allah menyatakan dalam Al Qur’an bahwa salah satu sebab utama yang membantu menguatkan iman para shahabat Nabi adalah keberadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah-tengah mereka. Allah Ta’ala berfirman,

وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آَيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Bagaimana mungkin (tidak mungkin) kalian menjadi kafir, sedangkan ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nyapun berada ditengah-tengah kalian? Dan barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali ‘Imran: 101).

Allah juga memerintahkan agar selalu bersama dengan orang-orang yang baik. Allah Ta’ala berfirman,

Baca selanjutnya…