Meraih Kesucian Hati

Hati adalah pusat ilmu dan ketaqwaan, cinta dan benci, keragu-raguan dan bencana. Ialah yang mengetahui jalan menuju Allah, sedangkan anggota tubuh lainnya hanyalah mengikuti dan berkhidmat kepadanya. Para salafush shalih memperoleh kearifan dalam hidupnya tidak lain adalah karena kualitas hati mereka ketika beribadah kepada Allah, yang suci dan bersih dari noda-noda kemaksiatan, sehingga mereka pun memiliki keistimewaan di sisi Allah. Sungguh Allah telah berfirman yang artinya: “(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” QS. As Syu’aro [26]: 88-89

Hati yang suci adalah hati yang selamat. Hati yang selamat yaitu hati yang terbebas dari kejelekan syahwat/hawa nafsu dan keinginan yang bertentangan dengan perintah Allah, dan dari setiap syubhat (kerancuan/ketidakjelasan) yang menyeleweng dari kebenaran.

Maka barangsiapa menginginkan keselamatan bagi hatinya, hendaklah ia membersihkan hatinya dari pengaruh racun-racun di atas dan dari benalu-benalu kemungkaran. Kemudian menjaganya, jangan sampai ada racun lain yang menggerogotinya.

Peran Hati terhadap Anggota Tubuh

Sesuatu yang paling mulia pada jiwa manusia adalah hatinya. Hati mempunyai peran yang sangat penting terhadap seluruh anggota badan, ibarat raja terhadap para prajuritnya. Semua bekerja atas dasar perintahnya dan tunduk kepadanya. Seluruh tubuh adalah pelaksana semua titah (perintah)nya yang selalu siap untuk menerima arahannya. Jika hati seseorang baik maka akan baik pula seluruh tubuhnya, namun jika hati seseorang jelek maka akan menjadi jelek pulalah seluruh tubuhnya. Sebagaimana sabda Rasulullah yang artinya: “Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik maka seluruh tubuh pun baik. Dan apabila ia rusak maka seluruh tubuh pun rusak. Ketahuilah, itu adalah hati.” HR. Bukhari: 52, Muslim: 1599

Al Imam al ‘Iz Abdussalam menjelaskan hadits diatas: “Apabila hati baik dengan setiap keadaan dan mengamalkan kebajikan maka akan baik pulalah seluruh tubuh dengan melaksanakan ketaatan (kepada Allah). Namun, apabila hati rusak dengan kejahilan-kejahilan dan jelek dalam beramal di setiap keadaan maka seluruh tubuh pun akan melakukan kefasikan dan kemaksiatan.” Qowaidul Ahkam: 1/176, dinukil dari kitab Ma’alim fis Suluk: 67

Alangkah bagus apa yang disampaikan oleh sahabat Abu Hurairah: “Hati adalah raja bagi anggota tubuhnya. Dan anggota tubuh adalah para prajuritnya. Apabila raja baik maka para prajuritnya pun baik. Dan apabila raja jelek maka para prajuritnya pun jelek.” Majmu’ Fatawa oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: 10/15

Kunci Meraih Kesucian Hati

Barangsiapa yang memperhatikan kebanyakan manusia saat ini, niscaya ia akan menjumpai banyak perkara yang sangat mengherankan. Yaitu kebanyakan orang menaruh perhatian yang berlebihan kepada penampilan lahiriah saja tetapi lalai dari kebutuhan batiniah. Banyak juga orang yang sibuk dengan memperindah amalan ibadah lahir tetapi ia juga lupa dari memperindah ibadah batin. Di samping itu, kita juga menyaksikan kerumunan orang sangat antusias (bersemangat) mengikuti berbagai macam majelis penyucian hati, seperti majelis dzikir, manajemen qolbu, dan lain-lain. Namun pada hakikatnya mereka terjebak dalam perangkap tasawuf, yang justru makin memperkeruh hati.

Oleh karena itulah, sebagai kaum muslimin umat Nabi Muhammad yang bersandar di atas al Quran dan as Sunnah, sudah seyogyanya kita memahami dan mengetahui cara meraih kesucian hati menurut metode Ahlussunnah wal Jama’ah.

Inilah di antara hal-hal yang bisa memurnikan hati seseorang:

1. Memurnikan Tauhid kepada Allah

Merealisasikan dan memurnikan tauhid (yaitu hanya beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukanNya) merupakan wasilah/sarana terpenting untuk meraih kesucian hati (lihat firman Allah dalam QS. Fushshilat [41]: 6-7). Ibnul Qoyyim mengatakan: “Tauhid adalah sesuatu yang paling lembut, halus, bersih, dan jernih. Maka kotoran sekecil apapun dapat membuatnya keruh dan mempengaruhinya. Ia bagaikan kain putih yang sangat sensitif terhadap kotoran sekecil apapun. Ia juga bagaikan cermin yang sangat bersih, benda yang paling kecil pun dapat mempengaruhinya.” Al Fawaid: 184

Adapun syirik, ia adalah penghapus semua amal ibadah dan mengakibatkan kekekalan di dalam Neraka Jahannam. Selain itu, syirik juga menyebabkan kehinaan dan kenistaan, sebagaimana firman Allah yang artinya: “Janganlah kamu adakan Tuhan yang lain di samping Allah agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah).” QS. Al Isra’ [17]: 22

2. Meninggalkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah

Dalam masalah ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Jiwa dan amal tidak bisa suci, hingga dihindarkan dari hal-hal yang bisa menentangnya. Dan seseorang tidaklah bersih melainkan dengan meninggalkan yang buruk karena ia akan mengotori dan mengeruhkan jiwa. Ibnu Qutaibah berkata: “Firman Allah (QS. Asy Syams [91]: 10) Yaitu orang yang mengotori hatinya dengan kefasikan-kefasikan maksiat. Orang yang fajir (berbuat dosa) itu telah menghancurkan dan menenggelamkan jiwanya. Sedangkan orang yang berbuat baik, ia telah mengangkat dan meninggikan martabatnya.” Majmu’ Fatawa: 10/629

3. Melaksanakan sholat lima waktu

Renungkanlah apa yang disabdakan oleh Rasulullah yang artinya: “Beritahukanlah kepadamu, seandainya ada sungai di depan pintu seseorang di antara kalian lalu ia mandi di dalamnya setiap hari lima kali, bagaimana pendapatmu, apakah ia masih menyisakan kotoran pada dirinya?” Mereka menjawab: “Dia tentu tidak menyisakan sedikitpun dari kotorannya.” Beliau bersabda: “Demikian itulah perumpamaan shalat lima waktu. Dengannya Allah menghapus dosa-dosa.” HR. Bukhari: 528, Muslim: 667

Ibnul Arobi mengatakan:”Persamaan dari perumpamaan hadits di atas ialah sebagaimana kotoran-kotoran yang bersifat materi menodai pakaian dan badannya. Dan hal itu dapat disucikan oleh air yang banyak. Demikian juga shalat lima waktu, ia dapat membersihkan pelakunya dari noda-noda dosa hingga tidak tersisa sedikit pun.” Fathul Bari: 2/11

4. Banyak besedekah

Firman Allah yang artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan doakanlah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” QS. At Taubah [9]: 103

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Sesungguhnya zakat itu mengharuskan adanya thoharoh. Firman Allah diatas yang dimaksud adalah membersihkan dari keburukan-keburukan, sedangkan watuzakkihim adalah menyucikan dengan amal-amal kebajikan.” Majmu’ Fatawa: 10/634-635

Amalan Hati

Ibnu Mundah mengatakan: “Amalan hati adalah ikhlas, rendah hati, cinta, takut, mengharap, tawakkal, dan semisalnya.” Al Iman oleh Ibnu Mandah: 2/362, dinukil dari kitab Ma’alim fis Suluk: 67

Sesungguhnya semua amalan hati tersebut wajib ditujukan kepada Allah, sebuah kewajiban yang paling agung dan paling penting untuk mendekatkan diri kepadaNya. Dengan demikian, apabila hati ini lenyap dari dalam jiwa seseorang maka hampalah amalan anggota tubuh lain yang ia kerjakan. Oleh karena itu, amalan hati merupakan pokoknya dan amalan jawarih (anggota badan) merupakan pengikutnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan: “Amalan hati termasuk pokok keimanan dan qowaidul ad-din (pondasi agama). Misalnya cinta kepada Allah dan RasulNya, tawakkal kepada Allah, mengikhlaskan agama kepadaNya, syukur kepadaNya, sabar atas segala keputusanNya, takut terhadap siksaNya, dan mengharap (pahala) kepadaNya… Semua ini wajib ditunaikan oleh para hambaNya — yang secara asal mereka semua diperintahkan — berdasarkan kesepakatan para ulama.” Majmu’ Fatawa: 10/5-6

Ibnul Qoyyim menuturkan: “Barangsiapa yang memperhatikan syariat Islam pada pokok dan pondasinya, maka ia akan mengetahui keterkaitan antara amalan jawarih (anggota badan) dan amalan hati, amalan jawarih tidaklah bermanfaat tanpa adanya amalan hati. Ibadah hati lebih agung daripada ibadah anggota badan lainnya dan merupakan kewajiban yang harus dilakukan setiap saat.” Ma’alim fis Suluk: 69

Demikianlah, hati memiliki peran yang sangat agung di dalam tubuh seseorang. Terangilah hati kita dengan membaca al Quran dan mentadabburi makna yang terkandung di dalamnya, mendatangi majelis ilmu. Sesungguhnya, jika hati kosong dari mengingat Allah maka niscaya setan akan masuk sebagai racun yang mengantarkan ke lembah kemaksiatan. Wal ‘iyadzu billah. (Abu Usamah)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: