Bentengi Diri dengan Takwa

Bulletin al-Huda Edisi 091 – Dzulqaidah 1431 H

Sering kita mendengar ajakan dan seruan khotib jum’at atau penceramah untuk selalu bertakwa kepada Allah. Namun, kenyataannya kalimat ini (takwa) sangat mudah diucapkan oleh lisan tetapi sangat berat dilakukan oleh dan anggota badan. Buktinya, masih banyak tindak kemaksiatan yang terjadi dihadapan mata yang mengindikasikan tipisnya benteng ketakwaan pelakunya.

Sebenarnya, jika tahu berbagai rahasia agung di balik takwa tentu kita tidak akan bermalas-malasan dalam bertakwa kepada Allah pada setiap tempat dan waktu. Untuk itu, dengan memohon pertolongan dari Allah kami mengangkat masalah ini kehadapan pembaca. Semoga ketakwaan kita kita yang makin tipis ini menjadi lebih tebal, dengan izin Allah. Aamiin.

Pengertian Takwa

Takwa secara bahasa berasal dari kata waqo- yaqi- waqoyaatan yang berarti menjaga dan melindungi. Sedangkan maksud taqwallah adalah rasa takut kepada Allah dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. (Mu’jam al-Wasith: 1052, Lisan al-Arab: 15/404)

Memilih definisi terbaik tentang takwa ini, Tholq bin Habib al-Anaziy (seorang ulama tabi’in) berkata: “Beramal karena takut karena Allah atas dasar cahaya iman dariNya dengan mengharap pahala dariNya dan meninggalkan maksiat kepada Allah atas dasar cahaya iman dari Allah karena takut akan hukumanNya.” (Siyar A’lamin Nubala’: 5/483). Perkataan Tholq diatas dikomentari Ibnul Qoyyim: “Hakikat takwa adalah beramal dalam ketaatan kepada Allah atas dasar iman dan mengharap pahala baik itu perintah maupun larangan. Maka ia (orang yang bertakwa) melaksanakan apa saja yang diperintahkan Allah kepadanya dengan menyakini perintah dan mempercayai janjiNya. Begitu juga, ia meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah didasari oleh keimanan terhadap larangan tadi dan sekaligus takut akan hukuman Allah.” (Badai’ at-Tafsir kumpulan Yusri Sayyid: 1/308)

Urgensi Takwa

Ada banyak alasan mengapa Allah dan RasulNya mewasiatkan takwa ini dalam banyak kesempatan, dalam al-Quran ataupun hadits yang shahih, diantaranya:

  1. Takwa merupakan wasiat Allah kepada kaum-kaum terdahulu, Firman Allah yang artinya: “…Dan sungguh kamu telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu, bertakwalah kepada Allah…” (QS. an-Nisa’[4]: 131)
  2. Takwa adalah sebaik-baik bekal

Firman Allah yang artinya: “…Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepadaKu hai orang-orang yang berakal.” (QS. al-Baqarah[2]: 197)

  1. Allah menjadikan takwa tolak ukur bagi kemuliaan hambaNya, makin bertakwa seorang hamba makin mulia kedudukannya, Firman Allah yang artinya: “… Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. al-Hujurat[49]: 13)

Bagi siapa saja yang mau mencermati, cukuplah ayat-ayat diatas untuk menunjukkan betapa sangat pentingnya ketakwaan dalam kehidupan setiap insan.

Ciri-Ciri Orang yang Bertakwa

Sulit untuk mengatakan si fulan (seseorang) bertakwa ataukah tidak sebab ketakwaan tidak kasat mata. Rasulullah menegaskan dalam hadits beliau yang artinya: ”Takwa itu ada disini (sambil menunjuk arah dada dan mengulanginya tiga kali).” (HR. Muslim: 2564)

Kendati begitu ada tanda-tanda lahiriah yang dapat mengindikasikan keadaan batin. Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan: “Jika hati seseorang benar-benar bertakwa maka akan muncul amalan anggota badan. Sebabnya, permisalan hati bagi anggota badan ialah layaknya seorang raja dan para rakyatnya. Bila raja itu baik maka rakyatnya juga akan baik, begitu juga kebalikannya.” (Syarah al-Arba’in an-Nawawiyyah: 370)

Jadi, kita bisa mengetahui ciri-ciri orang yang bertakwa dengan melihat amalan lahiriyah apakah sudah baik ataukah belum. Jika sudah, ia termasuk orang-orang yang bertakwa, namun jika sebaliknya, maka ia bukan termasuk orang yang bertakwa, walaupun banyak orang memanggilnya dengan gelar kehormatan keagamaan.

Balasan Bagi Orang yang Bertakwa

Begitu agungnya takwa di sisi Allah hingga Dia menyiapkan begitu banyak ganjaran bagi setiap orang yang bertakwa. Dalam al-Quran banyak sekali ayat yang menerangkan berbagai keuntungan yang akan diraih oleh seorang yang bertakwa, di antaranya:

  1. Barangsiapa yang bertakwa akan Allah bukakan pintu jalan keluar baginya dalam firman Allah yang artinya: “…Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. ath-Tholaq [65]: 2)
  2. Orang yang bertakwa akan dihapuskan kejelekannya dan dilipatgandakan kebaikannya dalam firman Allah yang artinya: “…Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya.” (QS. ath-Tholaq [65]: 5)
  3. Allah menyiapkan surga bagi para hambaNya yang bertakwa dalam firman Allah yang artinya: “Itulah surga yang akan kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.” (QS. Maryam [19]: 63)
  4. Allah akan membukakan pintu rahmat dan berkah dari langit untuk orang yang bertakwa dal firman Allah yang artinya: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. al-A’raf [7]: 96)
  5. Dan ketahuilah, bahwa akhir yang baik hanya untuk orang yang bertakwa dalam firman Allah yangb artinya: “…Maka bersabarlah, sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Hud [11]: 49)

Agar Kita Selalu Bertakwa

Rasulullah bersabda yang artinya: ”Bertakwalah engkau di mana saja engkau berada!” (HR. At-Tirmidzi: 1987 dari jalan sahabat Abu Dzar al-Ghifari, dihasankan oleh Imam al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi: 2/ 373)

Bersikap istiqomah dalam ketakwaan memang sulit tetapi kita tidak boleh berpatah arah dalam mengusahakannya. Lantas bagaimanakah kiat kita agar selalu bertakwa sebagaimana wasiat Rasulullah dalam hadits diatas? Rasulullah telah mengisyaratkannya ketika beliau menerangkan tingkatan ihsan dalam “Hadits Jibril”:

  1. Kita beribadah kepada Allah seakan-akan kita sendiri melihat Allah atau seperti orang yang jatuh cinta sedang mencari-cari yang dicintanya. Ini dinamakan tingkatan ath-tholab.
  2. Jika tidak bisa seperti diatas, kita beribadah kepada Allah dengan merasa bahwa Allah selalu melihat kita, seperti orang yang selalu diawasi. Ini dinamakan tingkatan al-harob.

Dengan demikian kita tidak akan berani melakukan tindakan yang mengurangi nilai ketakwaan atau yang menghilangkannya. (Syarah al-‘Arba’in an-Nawawiyyah karangan Ibnu Utsaimin: 64-65)

Seorang bijak pernah berkata: “Jika engkau ingin bermaksiat kepada Allah maka berbuatlah maksiat di tempat yang tidak diketahui olehNya.”

Semoga kita semua dijadikan termasuk hamba-hamba Allah yang bertakwa di mana saja kita berada. Wallahu A’lam.
(Abu Usamah)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: