“Valentines Day” Dalam Tinjauan Syar’i

Di antara kematian seseorang yang diperingati secara massal oleh begitu banyak orang adalah kematian St. Valentine yang diyakini terjadi pada tanggal 14 Februari. Ia dihukum mati karena menentang Kaisar yang melarang pernikahan di kalangan pemuda. Hari kematiannya itu kemudian diperingati sebagai Valentines day (hari valentine), suatu hari di mana orang-orang menyatakan rasa cinta dan kasih sayang kepada orang-orang yang diinginkannya. Di hari itu ada yang menyatakan perasaan kasih sayangnya kepada teman, guru, orang tua, kakak atau adik, dan yang paling banyak ditemui adalah mereka yang menyatakan cintanya kepada pasangan atau kekasihnya. Di hari itu pula, para lelaki atau perempuan yang ingin menyatakan cintanya mengirimkan kartu atau hadiah berupa cokelat atau kado kepada orang yang dituju dengan kalimat ”Be My Valentine” (Jadilah Valentine-ku) atau sama artinya ”Jadilah kekasihku”. Benarkah yang demikian itu semua merupakan kebaikan?

Baca selanjutnya…

Meraih Kesucian Hati

Hati adalah pusat ilmu dan ketaqwaan, cinta dan benci, keragu-raguan dan bencana. Ialah yang mengetahui jalan menuju Allah, sedangkan anggota tubuh lainnya hanyalah mengikuti dan berkhidmat kepadanya. Para salafush shalih memperoleh kearifan dalam hidupnya tidak lain adalah karena kualitas hati mereka ketika beribadah kepada Allah, yang suci dan bersih dari noda-noda kemaksiatan, sehingga mereka pun memiliki keistimewaan di sisi Allah. Sungguh Allah telah berfirman yang artinya: “(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” QS. As Syu’aro [26]: 88-89

Hati yang suci adalah hati yang selamat. Hati yang selamat yaitu hati yang terbebas dari kejelekan syahwat/hawa nafsu dan keinginan yang bertentangan dengan perintah Allah, dan dari setiap syubhat (kerancuan/ketidakjelasan) yang menyeleweng dari kebenaran.

Baca selanjutnya…

Berwudhu Sesuai Sunnah

Saudaraku sekalian yang dirahmati oleh Allah, wudhu adalah suatu masalah yang sangat penting di dalam ajaran Islam lantaran dia merupakan syarat sahnya sholat. Allah enggan menerima shalat seorang hamba selagi dia belum bersuci atau berwudhu terlebih dahulu ketika akan memulai shalatnya. Di samping itu, bila seseorang berwudhu kemudian tidak sempurna wudhunya atau tidak mengikuti tata cara wudhu Nabi maka shalatnya pun diragukan keabsahannya. Bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengancam dengan api neraka terhadap orang yang tidak mencuci kakinya dengan sempurna. Lantaran begitu pentingnya permasalahan ini dan juga banyaknya kaum muslimin yang belum mengetahui tatacara wudhu Nabi shallallahu alaihi wa sallam, maka penulis berusaha –dengan senantiasa memohon dan mengharap pertolongan dari Allah– untuk membahas permasalahan ini. Semoga bermanfaat.

Baca selanjutnya…

Wajibnya Taat Kepada Pemimpin

Alangkah tentram dan nyaman hidup ini bilamana rakyat dan pemimpinnya saling mencintai, saling menghormati, dan saling menghargai. Seorang pemimpin melaksanakan kewajibannya yang menjadi sarana untuk mewujudkan tujuan-tujuan diadakannya kepemimpinan. Demikian pula dengan rakyatnya, mereka memiliki kewajiban terhadap pemimpinnya yang harus mereka realisasikan demi mewujudkan tujuan yang sama. Karena hubungan pemimpin dan rakyatnya atau sebaliknya mempunyai andil yang sangat besar di dalam sebuah kepemimpinan. Akan tetapi, hendaknya hubungan ini berjalan di atas dasar al-Quran dan as-sunnah as-shohihah serta tidak keluar dari contoh amalan para salaful ummah, yaitu para sahabat dan orang-orang yang setelah mereka dari kalangan tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Karena di dalamnya terdapat kemaslahatan besar bagi manusia di dunia dan di akhiratnya. Antara pemimpin dan rakyat sama-sama bertanggung jawab dalam mengemban amanah dalam rangka beribadah kepada Allah bukan semata-mata untuk motivasi duniawi, tetapi benar-benar menjalankan tugas Ilahi agar dunia menjadi tentram untuk tujuan yang hakiki, meraih kehidupan akhirat yang kekal abadi.

Baca selanjutnya…

Hanya Allah Yang Mengetahui Ilmu Ghoib

Tidak sedikit kita jumpai orang-orang yang mengaku tahu urusan (ilmu) ghoib di zaman kita sekarang ini, disamping marak dan merebaknya praktek-praktek kesyirikan yang dilakukan oleh umat. Sungguh membuat miris dan sedih hati ini melihatnya. Apalagi, klaim (pengakuan) ini mereka jadikan sebagai profesi dan ladang bisnis untuk menipu dan memakan harta manusia dengan cara yang batil. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Oleh sebab inilah, penulis ingin menyampaikan masalah ini menurut pandangan Islam agar kita tidak tertipu dan tidak melangkah tanpa dalil. Semoga Allah senantiasa memberi petunjuk kepada kita semua.

Pengertian Ghoib
Berkata ar-Roghib al-Asfahani: “(Ghoib adalah) sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh indera dan akal manusia, tetapi hanya diketahui berdasarkan wahyu yang diturunkan kepada para utusan-Nya.” Mufrodat li Alfazh al-Quran: 617

Baca selanjutnya…