Wajibnya Taat Kepada Pemimpin

Alangkah tentram dan nyaman hidup ini bilamana rakyat dan pemimpinnya saling mencintai, saling menghormati, dan saling menghargai. Seorang pemimpin melaksanakan kewajibannya yang menjadi sarana untuk mewujudkan tujuan-tujuan diadakannya kepemimpinan. Demikian pula dengan rakyatnya, mereka memiliki kewajiban terhadap pemimpinnya yang harus mereka realisasikan demi mewujudkan tujuan yang sama. Karena hubungan pemimpin dan rakyatnya atau sebaliknya mempunyai andil yang sangat besar di dalam sebuah kepemimpinan. Akan tetapi, hendaknya hubungan ini berjalan di atas dasar al-Quran dan as-sunnah as-shohihah serta tidak keluar dari contoh amalan para salaful ummah, yaitu para sahabat dan orang-orang yang setelah mereka dari kalangan tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Karena di dalamnya terdapat kemaslahatan besar bagi manusia di dunia dan di akhiratnya. Antara pemimpin dan rakyat sama-sama bertanggung jawab dalam mengemban amanah dalam rangka beribadah kepada Allah bukan semata-mata untuk motivasi duniawi, tetapi benar-benar menjalankan tugas Ilahi agar dunia menjadi tentram untuk tujuan yang hakiki, meraih kehidupan akhirat yang kekal abadi.

Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasululllah shallallahu alaihi wa sallam kepada Abu Dzar al-Ghifari yang artinya: “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya kamu orang yang lemah, sedangkan ia (kepemimpinan/kekuasaan) adalah amanah dan di hari kiamat ia adalah kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang mengambilnya dengan benar dan menunaikan kewajibannya.” HR. Muslim: 3404

Kewajiban Kepada Pemimpin yang Bukan Maksiat
Di antara kewajiban seorang rakyat kepada pemimpinnya adalah mematuhi dan menaati segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya, selagi tidak menjurus kepada kemaksiatan. Hal ini telah menjadi kesepakatan para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah dari zaman dahulu hingga sekarang. Dan ini juga merupakan salah satu pokok yang membedakan antara ahlussunnah dan ahlu bid’ah.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada al-Quran da Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” QS. An-Nisa’ [4]: 59

Ayat ini secara tegas menunjukkan kewajiban mematuhi dan menaati pemimpin. Dijelaskan dalam hadits shohih bahwa ketaatan yang berlaku adalah ketaatan yang tidak mengandung unsur kemaksiatan. Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Mendengar (mematuhi) dan menaati (pemerintah) adalah suatu kewajiban, selama tidak diperintahkan dengan kemaksiatan. Jika diperintah dengan kemaksiatan, maka tidak ada kewajiban mendengar dan menaatinya.” HR. Bukhari: 2738, Muslim: 3423

Meninjau dalil-dalil di atas, secara garis besar, pemimpin harus ditaati selagi tidak memerintahkan kepada kemaksiatan. Akan tetapi, pemimpin ditaati disebabkan oleh dua faktor:

Pertama, faktor kekuatan iman yang bersemayam pada kedua belah pihak. Dan inilah sesungguhnya ketaatan yang bermanfaat, baik bagi pemimpin maupun bagi rakyat, yaitu karena faktor keimanan.

Kedua, terkadang pemimpin ditaati karena faktor lain yang tidak berdasarkan keimanan, misalnya karena pemimpin mempunyai system pertahanan yang kuat, sehingga ia memimpin dengan sewenang-wenang, dan rakyat pun harus taat kepadanya. Siapa yang menentang akan ditindak tegas. Ketaatan seperti ini banyak menimbulkan kemadhorotan (bahaya), seperti terjadinya pemberontakan, demonstrasi disana-sini, dan yang lainnya.

Kewajiban Rakyat Kepada Pemimpin
Sebagaimana seorang pemimpin memiliki kewajiban terhadap rakyatnya, maka begitu pula sebaliknya, rakyat memiliki kewajiban kepada pemimpinnya. Di antara kewajiban rakyat terhadap pemimpinnya ialah sebagai berikut:

1. Ikhlas dan menasehati apabila menjumpai kekeliruan pada pemimpin serta mendoakan kebaikan baginya.
Kewajiban ini nampak jelas dalam sebuah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang artinya: “Seseungguhnya Allah meridhoi tiga perkara pada kalian, yaitu: menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya, berpegang teguh pada tali Allah dan tidak berpecah belah, dan menasehati orang yang Allah jadikan (sebagai) penguasa atas kalian.” HR. Muslim: 3236, Ahmad: 84444

Hadits ini menunjukkan disyariatkannya menasehati para pemimpin (pemerintah). Dikarenakan mereka pasti berbuat kekurangan dan kekeliruan sebagaimana manusia lainnya. Mereka tidak ma’shum dari ketergelinciran dan kesalahan (maksudnya: mereka manusia biasa yang terkadang salah, terkadang benar, — red)

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani menjelaskan makna nasehat kepada para penguasa, beliau menyatakan: Membantu tugas kewajiban yang dibebankannya. Menegurnya ketika lalai. Menyatukan kekuatan dan hati rakyat di bawah kepemimpinannya. Dan yang paling penting adalah mencegahnya dari berbuat zholim dengan cara yang baik.” Fathul Bari 1/136, cet. Maktabah Salafiyah

Sangat tidak bijaksana mengoreksi dan mengkritik kekeliruan para pemimpin melalui mimbar-mimbar terbuka, tempat-tempat umum, atau media massa – baik elektronik maupun cetak. Yang demikian itu banyak menimbulkan fitnah, bahkan terkadang disertai hujatan dan cacian kepada perorang (individu tertentu). Seharusnya, orang yang melihat kesalahan pada pemimpinnya di sebagian perkara maka hendaklah ia menasehatinya dengan cara tidak menampakkan celaan di depan khalayak ramai, menasehati para pemimpin dengan cara lemah lembut dan di tempat rahasia. Hal ini sebagaimana telah dijelaskan oleh Imam asy-Syaukani dalam kitab Sailul Jaror 4/446

2. Menghormati dan memuliakannya serta tidak menghinakannya
Menghormati dan memuliakan pemerintah, baik penguasa atau ulama, merupakan kewajiban dalam Islam. Sedangkan mencela, melecehkan, serta merendahkan kedudukan mereka adalah terlarang. Semua itu untuk menumbuhkan perasaan segan dalam diri rakyat dan menumbuhkan wibawa seorang pemimpin, agar mereka (rakyat) tidak berbuat kerusakan, keburukan, permusuhan, dan pembangkangan.

Telah dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat mulia Abu Bakroh, bahwasannya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Barangsiapa yang memuliakan sulthon (penguasa) Allah di dunia., maka Allah akan memuliakannya pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang menghinakan sulthon (penguasa) Allah di dunia, maka Allah akan menghinakannya pada hari kiamat.” HR. Ahmad: 542, Tirmidzi: 3150, dan dishohihkan 5/376

Sahl bin Abdullah at-Tusturi menyatakan: “Manusia selalu dalam kebaikan selama memuliakan penguasa dan ulama. Jika mereka mengagungkan keduanya, niscaya Allah akan memperbaiki akhirat dan dunianya. Dan jika merendahkan dan melecehkan keduanya, maka Allah akan menghancurkan dan menghinakan dunia dan akhiratnya.” Mu’amalatul Hukkam fi Dhouil Kitab was Sunnah: 32

3. Membela dan menolongnya dalam hal kebaikan
Di antara kewajiban rakyat kepada pemimpinnya adalah membela dan membantunya dalam menjalankan tugas yang dibebankan kepadanya, baik membela mereka secara lahir maupun batin dengan mengerahkan segala kemampuan yang kita miliki. Karena dengan membela pemimpin, akan ada pada dirinya pula pembelaan terhadap kaum muslimin dan perlindungan dari gangguan orang yang ingin berbuat jahat.

Firman Allah Ta’ala yang artinya: ”Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kabajikan dan taqwa. QS. Al-Maidah [5]: 2

Adapun bentuk pembelaan dan pertolongan terhadap pemimpin dapat diwujudkan dalam bentuk saling menolong atau bekerja sama dengannya dalam perkara-perkara yang dapat meningkatkan dan mewujudkan kemajuan/perkembangan dalam segala bidang.

Bersabar Terhadap Pemimpin yang Zholim
Pemimpin yang zholim dan jahat adalah sosok pemimpin yang hanya berambisi terhadap kekuasaan belaka. Perbuatan mereka tidak sepi dari penganiayaan dan kezholiman serta tidak segan-segan membantai siapapun yang mencoba merebut kekuasaannya, meskipun tindakannya itu melanggar syariat. Dia juga tidak adil dalam memberikan hak-hak umat serta boros terhadap harta kepemimpinannya. Lalu bagaimanakah sikap kita? Barangsiapa yang tidak memiliki kemampuan untuk menasehati pemimpin yang zholim, maka sebaiknya berdiam diri dan bersabar. Sebab Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Barangsiapa yang mendapatkan dari pemimpinnya sesuatu yang tidak menyenangkan, maka hendaklah bersabar, karena sesungguhnya barangsiapa yang keluar dari pemimpinnya, maka ia meninggal dalam keadaan jahiliyah.” HR. Muslim: 1848

Semoga Allah memperbaiki dan menunjukkan kepada kaum muslimin dan pemimpin mereka jalan yang diridhoi-Nya serta membimbing mereka kepada jalan yang lurus. Oleh karena itu, agar kehidupan kaum muslimin terarah, tidak salah, dan tidak anarkis, hendaknya mereka senantiasa berpegang teguh kepada al-Quran dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman salafush sholih. Untuk itu hendaknya mereka tidak memisahkan diri dari bimbingan para ulama Ahlussunnah.
(Abu Usamah)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: